Pada hari Jum'at, 6 Maret 2009 menurut rencana Presiden Korea Selatan Lee Myung-bak akan datang ke Indonesia. Presiden Lee adalah seorang pekerja keras yang bisa merubah nasibnya dari rakyat biasa yang di masa remajanya berjualan asongan menjadi seorang yang kaya raya.
Korea Selatan digambarkan sebagai negara yang termasuk terlambat dalam membangun industrinya, mengingat perusahaan-perusahaan di negara lain telah memiliki teknologi maju pada awal tahun 1970-an, namun Korsel mampu mengejar ketertinggalannya dengan mengusai teknologi, sehingga negara tersebut mampu mensejajarkan dirinya dengan negara-negara maju lainnya yang tergabung dalam Organization of Economic Cooperation and Development (OECD). Ada beberapa argumen yang mendukung kemajuan Korsel, yaitu karena penduduk Korea Selatan pada umumnya adalah pekerja keras; Kebijakan pemerintahnya yang sangat mendukung bidang pendidikan yang mengaitkannya dengan industri; Peran Pengusaha/Swasta/Chaebol dalam pengembangan riset dan teknologi, disamping filosofi Confucianism yang dipegang teguh oleh rakyatnya.
Korea Selatan juga diuntungkan oleh kebijakan luar negeri negara-negara "Barat" dalam perang dingin untuk membendung pengaruh komunisme di Asia, sehingga Korsel mendapatkan bantuan luar negeri yang sangat besar.
Pernah seorang pensiunan pejabat menceritakan kepada saya tentang pengalamannya ketika belajar di Australia pada awal tahun 1970-an. Dia pernah suatu saat ditegur oleh kawannya yang berasal dari Korea selatan agar tidak bermalas-malasan karena orang Korsel tersebut melihat dia sedang rebahan pada waktu siang hari.